Sosok Dosen 2.0, Nggak Jaim, Jayus, apalagi Jablai

Sewaktu di ruang panitia sertifikasi tadi, kebetulan sempat buka mailbox. Ada massage yg digenerate dari blog ini, ada comment baru ..  dari Mas Romi. Dia memberi tahu saya kalo dia baru saja publish tulisan baru di detikinet. Artikel itu nantinya juga akan di-post di blognya. Isinya adalah mengenai bahasan lengkap pandangan Mas Romi tentang bagaimana seharusnya dosen berkomunikasi dengan mahasiswa. Seperti biasanya, Mas Romi memang orang yang super cerdas dalam memilih judul : “Wahai Dosen, Berbicaralah dengan Bahasa Manusia!”  Busyet dah …  emang selama ini ngomong pake bahasa apaan? Planettt  ???    😀

Dalam tulisan itu, Mas Romi mengajukan beberapa karakteristik yang seharusnya dimiliki oleh seorang dosen dalam berhubungan dengan mahasiswa. Nah,..  kalo ciri-ciri itu dimiliki, maka itu artinya telah menjadikan kita sebagai dosen 2.0.  Halah ..  latah !!!   Hehehe ..  ini juga kata Mas Romi, loh ..  jadi kalo latah bukan saya, loh!..   😀

Jujur, pas seminar kemarin saya sempat bingung, bahkan hampir saya ngacung buat minta penjelasan : seperti apakah sosok dosen 2.0 itu?  Setahu saya, Web2.0 adalah web dengan karakteristik user participant, social participant, contentnya dibangun oleh masyarakat maya, dsb ..  (kalo nggak salah). Lha ini,..  dosen 2.0 ???   Saya sempat mengira apa maksudnya dosen itu mbagun e-learning bersama-sama yang kemudian di-share untuk umum atau bagaimana?  hehe .. sampai sekarang juga blm jelas. Tapi sepertinya sih nggak salah-salah amat … soalnya kemarin Maz Romi sempat ngasih contoh open resource-nya MIT yg kita kenal itu.

Nah,..  seperti apakah sosok dosen yang bisa menuju sosok dosen 2.0 versi Mas Romi? Ini rupanya:

  1. Memiliki kemampuan verbal. Dosen hendaknya juga harus memberikan tacit knowledge (know how) bukan hanya explicit knowledege (text book, teoritik, dsb).
  2. Memiliki kemampuan tulis. Tulisan ala paper, itu dingin dan formal. Bahasa blog bisa mereformasi tulisan kita untuk lebih ber’bahasa manusia‘. Kita bisa meninggalkan kesan formal di situ. Gaya ini lebih bisa menyentuh mahasiswa, memberi motivasi lebih.
  3. Open mind dan karakter berbagi. Dosen harus bisa mendekati mahasiswa dengan bahasa mereka. Jangan lagi  dosen bersifat jaim, jayus apalagi jablai, karena itu akan membuat mahasiswa makin tidak simpatik. Kalau sudah nggak simpatik, sebaik apapun ilmu pengetahuan dan nasehat yang kita berikan akan hancur, musnah dan mahasiswa akan main hati (romi and the backbone) 🙂  …  halah .. emang pinter becanda nih yg nulis …  😀   Bahkan, seperti yg saya bilang kemarin, Mas Romi sampai mebuat account friendster and facebook untuk mendekati mahasisnya ..  topbgt!
  4. Memiliki kemampuan teknis.  Bapak-bapak dosen,..  saat ini semua ilmu sudah beredar bebas di internet. Tidak perlu kuminter tahu segala hal dan takut dengan realita bahwa sangat mungin mahasiswa lebih tahu suatu hal dari kita. Justru jujur mengungkapkan kalo kita belum tahu dan akan mempelajari dulu adalah jawaban jujur terbaik karena iti artinya kita akan belajar. Nggak ada lagi dosen yg sok gaya tahu segala hal ..  plz dech !

Wah,..  rupanya kampanye ini bukan kampanye sembarangan, lihat saja status YM Maz Romi ini ..

Loh,..  itu artinya opo Mas ???  soalnya tadi pas mulai nulis artikel ini. bunyinya: Wahai Dosen,.. bicaralah dengan bahasa manusia!  Kok sekarang ganti boso Jepang. Gek opo itu artinya …  😀


Kamus:
Ngacung : Angkat telunjuk
Kuminter : Sok Pandai
Boso : Bahasa
Jablai : Jarang dibelai .. 😀 kata siapa nih ???

Gambar diambil dari betigaklaten.wordpress.com.

3 thoughts on “Sosok Dosen 2.0, Nggak Jaim, Jayus, apalagi Jablai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


*